1000 Hari Pertama Kehidupan Anak, Investasi yang Tak Tergantikan (Part 1 Singgalang, 20 April 2019)

Oleh : dr. Zuhrah Taufiqa, M. Biomed

Konselor Gizi dan Makanan Pendamping ASI & Manajer di Klinik Tumbuh Kembang Anak “My Lovely Child” Padang, Penulis Buku “Diary Pintar Bunda Menyusui dan MP ASI”, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas & Host Acara “Ayo Hidup Sehat” di TVRI Sumatera Barat

1000 hari pertama kehidupan dimulai sejak saat konsepsi terjadi di dalam rahim hingga anak lahir dan berusia genap 2 tahun. Masa ini disebut juga “periode emas” tumbuh kembang anak.

Periode kritis perkembangan organ tubuh berlangsung pada 12 minggu pertama usia kehamilan. 1 sel zygot tumbuh menjadi triliunan sel hingga akhirnya bayi lahir dengan berat 3 kg. Lalu, di usia 6 bulan, berat badan bayi menjadi 2 kali berat badan lahir dan menjadi 3 kali lipat di usia 1 tahun.

Tumbuh kembang otak juga berlangsung progresif. 100 biliun sel saraf (neuron) saat bayi baru lahir menjadi 1000 triliun sel di saat anak berusia 1 tahun. Di usia 2 tahun, volume otak mencapai 70% dibanding otak dewasa. Sebanyak 700 sinaps per detik berkembang di tahun pertama kehidupan. Di masa ini, perkembangan sensorik terutama visual, pendengaran, bahasa, bicara serta fungsi kognitif anak berlangsung pesat (Thompson & nelson, 2000).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, 37,2 % balita Indonesia mengalami stunting (pendek). Stunting mencerminkan buruknya asupan gizi yang diperoleh anak di 1000 hari pertama kehidupannya

Stunting dapat dimulai di masa kehamilan. Gangguan nutrisi ibu selama kehamilan seperti anemia atau kurang energy kronik (KEK) dapat mengganggu tumbuh kembang Janin di dalam kandungan yang disebut “lifelong programming effect” seperti hambatan pertumbuhan janin (IUGR), kematian janin (IUFD), prematuritas dan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR).

Robinson R (2001) mengungkapkan mengenai ‘fetal origins of adult disease’ yakni bayi dengan berat badan lahir rendah (<2.500 gram) berisiko mengalami obesitas dan berbagai penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus tipe 2 di masa dewasa.

Ketidakpahaman orang tua mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif yakni ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain di masa 6 bulan pertama juga turut menciptakan stunting. Hal ini berlanjut dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang salah. Pemberian menu tunggal dalam jangka waktu lama, tidak tepat tekstur & komponen menu yang diberikan serta cara pemberian makan menjadikan anak mengalami gangguan nafsu makan. Maraknya MP ASI instan serta berbagai info yang cenderung menggiring pemberian MP ASI dini, dan berbahan import dengan klaim “nutrisi untuk otak”, menjadikan makanan instan dan impor sebagai primadona meski berharga mahal. Padahal, terdapat beragam bahan pangan lokal bergizi tinggi di sekitar kita sebagai sumber MP ASI tinggi kalori dan padat gizi.

Sebuah penelitian tentang kecerdasan anak berdasar skor IQ (intelligent quotient) pada anak-anak di Jamaica yang berusia 9 hingga 24 bulan dengan stunted dan non stunted. Berdasarkan pemantauan terhadap kedua kelompok dalam rentang usia ini hingga mereka berusia 17-18 tahun, memperlihatkan bahwa gangguan nutrisi di 1000 Hari pertama kehidupan ini bersifat permanen dan irreversible yang berdampak terhadap kualitas hidup jangka pendek dan jangka panjang. Anak terbukti mengalami gangguan kemampuan kognitif dan prestasi pendidikan yang mempengaruhi daya tahan tubuh dan produktivitas kerja. Meski telah diberikan stimulasi dini melalui program kunjungan rumah memberikan perbaikan terhadap skor IQ namun, diusia 17-18 tahun, anak-anak dengan stunted tetap memiliki skor IQ di bawah anak-anak non-stunted.

Dengan demikian, jelaslah bahwa masa 1000 hari pertama kehidupan merupakan investasi yang tak tergantikan karena memiliki efek permanen dan irreversible terhadap tumbuh kembang anak di masa depan

> simak sambunganya di Harian Singgalang pekan depan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *