Berbicara mengenai gizi anak, selepas 6 bulan ASI eksklusif anah mulai pada masa MPASI (makanan pendamping ASI). Dalam bahasan kali ini sharing-sharing tips dari pengalaman mengenai bagaimana menghadapi masa-masa MPASI.

Cerita MPASI Ubaydullah “Antara Naik Tekstur dan Makan sesuai Porsi”

Oleh : Brinanti Sandwika Jalius, S.T., M.M.

 

            Setelah melalui masa ASI Esklusif selama 6 bulan, maka tibalah periode MPASI, sebuah proses pemberian makanan terbaik sebagai pendamping ASI dalam rangka memberikan gizi yang terbaik agar tumbuh kembang anak berlangsung dengan optimal. Pemenuhan kebutuhan gizi anak berdasarkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, terdiri dari beberapa tahapan pemberian makanan pendamping ASI sebagai berikut:

  1. Fase usia 6 – 9 bulan

Pada usia ini, anak diberikan ASI dan mulai dikenalkan makanan pendamping ASI berupa makanan padat yang diberikan secara bertahap berupa makanan lumat (bubur atau makanan keluarga yang dilumatkan) dengan frekwensi makan 2 – 3 kali sehari, dengan makanan selingan 1 – 2 kali sehari. Porsi makan 2 –  3sendok makan penuh setiap kali makan, dan ditingkatkan perlahan sampai ½ mangkuk berukuran 250 ml.

  1. Fase usia 9 – 12 bulan

Pada usia ini anak diberikan ASI, makanan lembek/ makanan cincang yang mudah ditelan anak 3- 4 kali sehari dan makanan selingan yang dapat dipegang anak 1 – 2 kali sehari. Porsi makan ½ – ¾ mangkuk berukuran 250 ml setiap kali makan.

  1. Fase usia 1 –  2 tahun

Pada usia ini anak diberikan makanan keluarga, makanan yang dicincang atau dihaluskan jika diperlukan, dan ASI. Makanan diberikan 3 – 4 kali sehari, ditambah makanan selingan 1 – 2 kali sehari dengan porsi setiap makan ¾ mangkuk – 1 mangkuk ukuran 250 ml.

Setiap fase harus dilalui sesuai dengan baik, pemberian MPASI hendaknya dilakukan sesuai dengan tektur yang tepat agar pertumbuhan psikomotor anak berkembang dengan baik. Disamping itu, jika pemberian makanan ini tidak dilatih tepat waktu maka berpotensi menimbulkan permasalahan makan di kemudian hari.

Memberikan MPASI sesuai tekstur ini memang memiliki tantangan tersendiri, kadang bisa dibilang menguras kesabaran karena ada proses menyiapkan makanan sesuai tektur, kadang makanan dibuat tapi tidak dimakan, cuma dilepeh, makanan tidak habis, makanan berantakan dll. Tiap anak mempunyai preferensi makan masing- masing, ada yang suka makanan yang encer dan lengket ada yang dikasih nasi tim hayu aja, ada yang belum genap berusia 1 tahun sudah mau makan nasi keluarga. Sehingga mungkin permasalahan yang dihadapi setiap ibu belum tentu sama. Namun secara garis besar, yang namanya penyesuaian tektur tentu saja memerlukan effort lebih dibanding tidak melakukan penyesuaian tekstur.

Paling gampang emang pake jurus.. “udah ga apa2, ntar paling bisa sendiri makan sesuai kemampuannya sendiri, lama2 bisa sendiri kok makan menu keluarga” atau pake jurus “dari pada makanannya berantakan, ga apa – apalah”, “dari pada makananya ga habis, nanti malah gizi yang masuk ga cukup”. Tapi apa kita mau menunda – nunda permasalahan, okay sekarang anak mau makan, tapi nanti kedepannya anak kita terlambat naik stuktur ke menu keluarga.

Untuk MPASI Ubaydullah, penyesuaian tektur dilakukan dengan menggunakan guidance dari Kelas MPASI online dr. Zuhrah Taufiqa, dengan urutan usia 6 bulan ; pure, usia 7 – 8 bulan ; makanan lumat, usia 9 – 12 bulan ; nasi tim cincang, usia > 12 bulan ; menu keluarga.

Variasi tekstur makanan sesuai usia

Salah satu kekhawatiran ibu – ibu ketika proses naik tekstur adalah makan anak yang jadi tidak lahap dan khawatir porsi makanan yang masuk tidak mampu memenuhi kebutuhan gizinya. Berikut beberapa tips dan trik yang dilakukan dalam mempersiapkan MPASI Ubaydullah dalam rangka mengatasi berbagai kekhawatiran tersebut:

  1. Siapkan porsi makanan lebih dari minimal kebutuhan makanan anak.
  2. Siapkan makanan dalam berbagai tekstur, sehingga dapat menjadi variasi saat pemberian makan

Piring Makan Ubaydullah

  1. Persiapkan mental agar tidak emosi bahkan histeris jika makanan di lepeh anak, jika sendok di tepis, atau bahkan anak nangis dalam proses makan.
  2. Awali proses makan dengan membangun komunikasi dengan anak, sampaikan bahwa proses ini mungkin tidak menyenangkan tapi bukan karena ibuk ga sayang, melainkan demi kebaikan kita bersama. Anak bisa saja belum mengerti, tapi at least anak bisa merasakan dan melihat ekspresi kita.
  3. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan agar anak happy, bisa dengan diberikan mainan yang disukai anak maupun dengan meberikan alat makan tambahan seolah-olah makan sendiri.
  4. Apapun hasilnya, berikan apresiasi pada diri sendiri agar selalu semangat.

Usahakan selalu memberi makan anak dengan tekstur sesuai usianya atau minimal dengan di mixed dengan tekstur yang disukai anak. Jangan lupa terapkan selalu 3S, Syukur, Semangat dan Sabar, InsyaAlah proses naik tekstur berjalan lancar.

 

Referensi:

  • Materi Kelas MPASI Online dr. Zuhrah Taufiqa
  • Kementrian Kesehatan RI. 2017. Buku kesehatan Ibu dan Anak

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: