Berhitung cepat bagi siswa, seberapa penting sih?. Berikut adalah  lanjutan sebuah tulisan hasil diskusi ringan dalam sebuah keluarga, sekaligus sharing.

“Seberapa Penting sih, Kemampuan Berhitung Cepat bagi Siswa?”

Oleh: Fajri Umami

Berdasarkan pengalaman pribadi, pengamatan terhadap teman-teman di sekolah dulu, maupun pengalaman mengajar les matematika untuk siswa SD, permasalahan yang biasa ditemukan, diantaranya:

  1. Anak tidak memahami konsep.
  2. Frekuensi latihan rendah.
  3. Kemampuan bermatematika si anak lemah.

Yuk, bahas satu per satu. 

Tidak Paham Konsep

Saya ambil contoh sederhana. Di satu sore, ada satu teman Ibrahim yang sedang main game edukasi di gadget, permainan berhitung. Si anak yang sudah TK B itu fokus menjawab soal-soal yang ditampilkan. Ada anak lain yang masih berusia 3,5 tahun ikutan nimbrung. Saat si adek kecil melihat si kakak sibuk berhitung sambil menyebut kata “tambah”, si adek pun langsung nyanyi, “1+1=2”. Teman yang lain pun menyambung sambil bertanya, “2+2=?”. “Empat”, jawab si adek dengan cepat. Apakah itu artinya si adek sudah bisa berhitung? Tunggu dulu… cerita belum tuntas. Tak lama kemudian, si adek dan teman sebayanya main kucing-kucingan. Si adek kebagian jaga, jadi dia harus berhitung 1-10. Nah, di bagian ini, ternyata si adek masih terbolak-balik mengurutkan angka, dan masih ada yang skip juga. Artinya, konsep mengurut bilangan masih belum dikuasai si adek. Dengan demikian, kemungkinan besar jawaban “empat” yang disebut si adek tadi sebatas hafalan lagu saja, bukan karena dia paham konsep 2+2 (buat si adek ini, mah, wajar dan normal. Kan, masih 3,5 tahun, belum waktunya calistung).

Lalu, paham konsep berhitung itu seperti apa?

  • Hal pertama yang harus anak pahami adalah konsep urutan–anak mampu mengurutkan bilangan dengan benar, tanpa terbolak-balik ataupun skip. Misal: 1,2,3,4,5… dan seterusnya.
  • Lalu, anak mampu menghitung jumlah benda. Misal: mobilnya ada 2, buah apelnya ada 3.
  • Setelah itu, baru si anak bisa diajarkan penjumlahan. Misal: tadi ada 2 mobil yang parkir di lapangan. Barusan, ada 1 mobil lain yang masuk ke parkiran. Sekarang, mobilnya ada 3. Jadi, 2 mobil ditambah 1 mobil, jadinya 3 mobil. 2+1=3.
  • Setelah penjumlahan, baru pengurangan. Misal: di antara 3 mobil yang ada di parkiran, ada 2 mobil yang keluar, sehingga hanya tinggal 1 mobil yang ada di parkiran sekarang. 3-2=1.
  • Tuntas penjumlahan dan pengurangan, bisa masuk ke perkalian. Misal: ada 2 kantong buah apel. Masing-masing kantong berisi 3 buah apel. Jika semuanya digabung dan dihitung, jumlahnya ada 6. 2×3=6.
  • Kemudian, silakan masuk ke pembagian. Misal: keenam buah apel tadi harus dibagi sama banyak ke 3 orang anak; Adi, Boni, dan Caca. Jadi, masing-masing anak mendapatkan 2 buah apel. 6:3=2.
  • Begitu seterusnya. Prinsipnya, harus tuntas dulu konsep di bab awal sebelum masuk ke bab berikutnya karena yang ada di bab-berikutnya itu adalah pengembangan dari bab awal.

Dalam metode berhitung cepat, misalnya dengan menggunakan jari, soal penjumlahan dan perkalian memang dapat dijawab dengan cepat. Namun, jika anak hanya mamppu menjawab pertanyaan tanpa mampu menjelaskan jawabannya (bagaimana solusi itu diperoleh, seperti apa runut jalannya), anak tetap akan kesulitan sendiri saat masuk ke bab yang lebih advanced.  

Kurang Latihan

Menurut Ayah Ibrahim*, meningkatkan frekuensi latihan saja cukup bagi anak, meskipun hanya mengandalkan metode konvensional yang agak panjang, tanpa harus menggunakan metode berhitung cepat. Setelah anak paham konsep, perbanyaklah latihan. Misal: di dalam buku matematika sekolah biasanya sudah dijelaskan dengan rinci bagaimana cara menghitung perkalian dengan jalur panjang ataupun pendek. Silakan pilih jalan yang dirasa paling gampang. Pakai itu saja cukup, apalagi tekniknya bisa berlaku umum, tanpa syarat-ketentuan. Sementara itu, dalam perkalian menggunakan jari dan berhitung cepat lainnya, biasanya 1 teknik hanya bisa digunakan untuk menghitung angka-angka tertentu, sehingga ada banyak teknik yang harus dihafal anak. Kerjakan saja soal latihan dengan benar. Makin banyak latihan, otak akan semakin terlatih untuk mengerjakan hal yang sama, fokus meningkat, intuisinya dapat, sehingga kecepatannya pun akan meningkat dengan sendirinya.

Kemampuan Bermatematika

Memang, tiap anak memiliki kemampuan yang tidak sama. Kemampuan bermatematika (kecerdasan logika-matematika) hanya satu dari delapan kecerdasan majemuk menurut Gardner.** Wajar jika ada yang daya tangkapnya cepat, ada juga yang butuh usaha ekstra. Untuk kasus anak yang lemah dalam bermatematika, idealnya tetap saja pemahaman konsep yang harus “duduk” terlebih dahulu. Hanya saja, mungkin metode penyampaian dan “pace”-nya yang harus disesuaikan, tidak bisa disamakan dengan yang lain. Frekuensi latihannya pun harus lebih banyak daripada yang berkemampuan rata-rata.

Saya pernah punya kasus seperti ini. Ada satu siswa kelas 3 SD yang masih belum tahu urutan angka setelah angka 49, dan masih kesulitan penjumlahan-pengurangan dengan angka di atas 10. Padahal, di kelas tersebut dia sudah berkenalan dengan bilangan negatif, desimal, perkalian, dan pembagian dengan angka hingga ribuan. Untungnya, si anak masih mau belajar dan diajarkan. Jadi, saat belajar bersama, dia memang diberikan tugas berbeda dibanding teman-temannya, guna mengejar ketertinggalan. Memang agak lama bagi saya untuk menemukan letak masalah si anak (mungkin karena keterbatasan pengalaman mengajar), hingga akhirnya kami berdua sama-sama paham masalah dan menemukan cara untuk mengatasinya. Akhirnya, si anak pun memandang matematika tidaklah semenakutkan sebelumnya (karena sekarang dia sudah tahu caranya dan paham konsepnya).***

Jika sekiranya si anak kadung “malas” belajar karena nilainya selalu rendah dan merasa tidak mampu, dan segala cara untuk menanamkan konsep tidak kunjung berhasil, mungkin mengajarkan shortcut sah-sah saja dicoba. Tujuannya, agar anak merasa “mampu” dulu. Jika anak sudah merasa “mampu”, kepercayaan dirinya akan meningkat. Lalu, “mampu” akan berubah menjadi “suka”. Jika anak sudah suka, kita bisa perlahan memberikan pemahaman konsep.

 

Kesimpulan:

  • Dalam pendidikan, mengasah kemampuan berpikir (analisis masalah) pada anak itu penting. Untuk bisa menganalisis masalah, butuh paham konsep dasarnya dulu.
  • Konsep dasar itu tidak ada di shortcut. Jika anak paham konsep, berlatih yang cukup, anak akan menemukan shortcut-nya sendiri.
  • Kalaupun terpaksa untuk menggunakan shortcut demi mencapai nilai KKM, silakan saja. Namun, tetap berusahalah untuk memahami konsep dasar perlahan-lahan agar tidak kesusahan sendiri di kemudian hari.

 

____________________

*Ayah Ibrahim adalah dosen matematika di satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Bandung.
**Kecerdasan majemuk (multiple intelligence) menurut Gardner terdiri dari kecerdasan linguistik, matematis, visual, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.
***Anggapan bahwa matematika itu sulit bisa membuat si anak malas untuk mempelajarinya. Apalagi, jika si anak selalu mendapat nilai jelek di sekolah. Bisa hilang keinginan untuk belajar. Mindset negatif ini yang ingin saya hindari atau hapus. Dengan memberikan motivasi, pemahaman konsep, latihan, dan penerapan aturan dilarang-menertawakan-teman-yang-salah di kelas, cukup membantu anak untuk “mau” belajar.

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: