Dalam pertumbuhan anak susah susah gampang, mengapa? karena kadang si anak jauh melambung tinggi dari apa yang harus dilakukannya dengan usianya saat itu. Atau sebaliknya si anak tak dapat melakukan sesuatu yang dianggap harusnya bisa melakukannya di umur segitu. Begitulah dinamikanya, berikut sharing pengalaman oleh bundanya Ibrahim dalam membersamai pertumbuhan serta perkembangan anaknya. Artikel ini adalah lanjutan dari artikel “Hidup Tak seperti Persamaan Linear.”

 

Pelajaran yang dipetik dari Grafik Kehidupan yang Tampak Tak Linear

Oleh: Fajri Umami

Buat saya, pelajaran pertama, berharap itu jangan ketinggian. Doa boleh tinggi (karena itu harapan/permintaan pada Tuhan yang Maha Mengabulkan doa), tapi ekspektasi ke anak (atau orang lain) jangan ketinggian. Kenapa? Agar terhindar dari perasaan “zonk” saat hasil usaha tak sesuai ekspektasi.

Jika ternyata hasilnya melebihi harapan, anggaplah itu bonus. Jika hasilnya tak sesuai harapan, kecewanya tak kan terlalu dalam. Ini tak mudah bagi saya pribadi yang masih mudah di-PHP-in oleh keberhasilan yang beruntun. Misalkan, setelah sekian kali percobaan, akhirnya satu waktu hasilnya sesuai harapan. Tak hanya sekali itu saja, tetapi beberapa kali berturut-turut. Otak saya akan berpikir, “Oh, mungkin gini nih, metode yang pas”, atau “mungkin ini memang sudah masanya”. Optimisme itu pun menjulang. Strategi diperkuat. Semangat menggebu-gebu untuk “periode baru”. Namun, sekalinya hasil jelek, ibu bisa jadi lebih uring-uringan dari sebelumnya. Anak pun akan semakin tak nyaman.

Pelajaran kedua, bersyukur itu amat sangat penting. Terutama untuk menjaga kewarasan seorang ibu. Menghargai setiap progress yang dibuat, walaupun kecil, itu penting. Cukup untuk menjaga kita jauh-jauh dari rasa putus asa ataupun blaming ini-itu (terutama blaming diri sendiri, merasa tidak becus sebagai ibu, dan sebagainya).

Saat harapan telah terkendali, kita akan lebih mudah melihat kejutan menakjubkan yang kadang atau mungkin sebenarnya sering terjadi. Seperti lompatan-lompatan perkembangan anak yang bisa membuat kita berkata “wow”. Seperti saat saya melihat Ibrahim yang akhirnya bisa dikondisikan untuk makan teratur pasca sakit yang “membakar” sekian berat badan yang telah dicicilnya dalam 3 bulan terakhir, jadi kini tak banyak lagi perdebatan antara kami di meja makan. Juga seperti saat Ibrahim tiba-tiba minta sendiri untuk belajar iqro’ dan langsung diborong dari halaman 1-13, setelah sekian bulan berusaha dipaparkan dengan berbagai cara, metode, dan media menarik. Atau seperti saat Ibrahim tiba-tiba minta kertas A4 untuk membuat sendiri paper plane dengan penuh percaya diri, setelah 1 tahun terakhir diajak melipat kertas tapi hanya bertahan di 2-3 step awal atau malah tak tertarik sama sekali (dengan berbagai alasan). Juga seperti saat Ibrahim tiba-tiba bertanya banyak bertanya tentang spelling kata-kata, lalu kami belajar intensif menggunakan flash card Abaca selama 2 minggu, kemudian akhirnya stop selama 8 bulan. Tiba-tiba, dia bisa membaca kalimat-kalimat sederhana yang ada di layar laptop saya. Jika dihitung, masih banyak lagi lompatan-lompatan perkembangan yang dibuatnya. Dan bagi saya itu terasa “wow” karena saya mengikuti tiap step, usaha, dan drama di sepanjang perjalannya. Masya Allah tabarakallah. Dan itu patut disyukuri.

Pelajaran ketiga, berserah dirilah (tawakkal kepada Allah) setelah berusaha. Hasil (ekspektasi) tak selalu berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. Meski para bijak berkata “hasil takkan mengkhianati usaha” sekalipun. Ada banyak variable yang bisa mempengaruhinya. Dan variable paling menentukan itu adalah izin Allah. Meski usaha telah berdarah-darah, kalau memang Allah berkendak lain, maka takkan terwujud. Namun, jika Allah sudah berkendak, pasti akan terjadi, meski usaha kita masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, melibatkan Allah dalam setiap usaha itu wajib. Usaha itu sebagai bukti bahwa kita bersungguh-sungguh menginginkannya, dan berserah diri itu sebagai bukti kita sadar diri bahwa Allah lah Maha Penentu dan Maha Mengetahui (apa yang terbaik bagi kita)

 

Kesimpulan

Perjalanan hidup itu tak selurus garis persamaan linear. Kadang bisa datar, menanjak santai, meroket tajam, bahkan terjun bebas. Bagaimanapun bentuknya, yang terpenting kita bisa mengambil hikmah. Setidaknya ada tiga pelajaran penting yang saya pribadi petik. Pertama, dalam hidup, jangan berekspektasi berlebihan (berharap pada Allah itu memang wajib; do’a namanya). Kedua, hargai dan syukuri setiap kebaikan yang kita peroleh (progress yang telah dibuat). Ketiga, jika usaha sudah mencapai batas kemampuan, berserah dirilah, karena bagaimanapun, Allah lah yang menentukan ending di tiap skenario yang kita jalani.

Semoga bermanfaat. 🙏


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: