Sudah hampir setahun wabah covid-19 muncul, dan juga hampir setahun juga pembelajaran jarak jauh (PJJ) “daring” dilakukan. Tentu ini banyak suka dukanya, terlebih ini menjadi hal yang baru bagi anak maupun orang tua. Orang tua menjadi guru dadakan di rumah, disamping ia juga bekerja, baik  di rumah maupun di luar. Berikut adalah sharing pengalaman mengenai pembelajaran jarah jauh oleh bunda Ibrahim.

Tips Membersamai Anak PJJ (Prinsip Mengajar ala Saya)

Oleh: Fajri Umami

Mendadak Jadi Guru

Di masa pandemi begini, semua orang tua, baik yang bekerja di rumah, bekerja dari rumah, ataupun yang bekerja di luar rumah, kebagian tugas untuk mengajar anak usia sekolah dan pra sekolah mereka di rumah. Sebutlah mendadak jadi guru. Rata begini situasinya. Bagaimana tidak, sekolah berganti sementara ke sistem online atau daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ), you name it. Meskipun ada juga sekolah yang menggunakan kombinasi online + tatap muka, tetap saja orang tua kebagian jadi guru di rumah.

Tak sedikit yang sharing keluhan mengenai susahnya tugas satu ini. “Kerjaan rumah/kantor belum kelar, tapi sudah waktunya PJJ.” “Mau disambi, anaknya tidak paham materi.” “Disuruh belajar mandiri, iklannya banyak, ujungnya ngga tuntas.” “Sudah ditemani, fokus, dan menjelaskan sebisanya, anak tetap aja ngga paham. Si anak malah komentar kalo gurunya di sekolah ngajarinnya ngga begitu.” “Diomongin baik-baik untuk fokus biar belajarnya cepat kelar, anaknya lagi ngga mood belajar dan ngajakin bercanda melulu. Bertaringlah emak.” “Saat emak sudah bertaring, tetap aja anak ngga nurut. Tunggu bapaknya saja lah. Eh, bapaknya pulang kemalaman.” Itu baru segelintir drama yang terekam. Silakan tambahkan sendiri.  

Benar, mengajar itu memang tak mudah. Lebih tak mudah lagi jika tugas yang selama ini didelegasikan kepada guru-guru di sekolah, harus diemban sendiri, sementara tugas lainnya (masak-beberes rumah dan urusan rumah tangga lainnya, kerjaan kantor yang dibawa ke rumah karena work from home, dan jualan online yang selama ini dijalankan, misalnya) tak berkurang. Harus bisa lebih multitasking dan atur waktu dengan lebih baik daripada biasanya.

Satu di antara hikmah menjadi guru dadakan ini adalah kita–orang tua–jadi menyadari susahnya menjadi guru. Mungkin, yang selama ini ngomel-ngomel  ke guru karena anaknya tak menunjukkan hasil belajar sesuai ekspektasi (padahal sudah bayar mahal!), hingga yang sempat nyeletuk, “Apa aja sih kerjaan gurumu di sekolah? Kok ini aja kamu ngga paham”, akhirnya bisa tahu bahwa mengajar itu tidak segampang membacakan buku, lalu anak langsung paham. Mungkin, yang dulunya mengira menjadi guru PAUD dan TK itu kerjaan paling gampang dan santai, jadi sadar bahwa handling 1 anak saja cukup menguras kesabaran, apalagi handling sekelas. Apalagi PAUD dan TK zaman sekarang tak sebatas belajar sambil bermain saja, melainkan sudah ada sisipan belajar baca-tulis-berhitung (calistung) segala (regulasi dari pemerintah, sih, tidak begitu. Realitanya, begitu lah. Sesuai tuntutan tak tertulis untuk masuk sekolah dasar). Intinya, kita–orang tua–berhutang banyak pada guru.

 

Tips Mengajar Anak di Rumah (Prinsip Mengajar ala Saya)

Mengenai guru dan mengajar, saya bukanlah guru (profesional) karena tak berlatar belakang sekolah keguruan (padahal pas kecilnya, saya bercita-cita jadi guru karena lahir di hari guru nasional

Setidaknya, ada 7 prinsip yang harus dimiliki orang tua agar proses pembelajaran di rumah berjalan dengan baik. Pertama, penguasan materi. Kedua, penyajian materi yang menarik.. Ketiga, sesuaikan dengan kemampuan anak (mulai dari yang paling gampang). Keempat, reward yang pantas. Kelima, tetap tenang saat pembelajaran tak seusai rencana. Keenam, peka dan cermat membaca masalah pada anak. Ketujuh, jangan berekspektasi terlalu tinggi.

Bersambung ke PJJ part 2………

 

Foto: Farah.id


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: