Tumbuh Kembang & Psikologis Anak (Bagian 2)

Harian Singgalang Minggu, 20 Mei 2018

Rubrik Klinik MLC “Seputar Menyusui dan Pemberian Susu UHT”

 

Rubrik Klinik MLC “Optimalkan Pertumbuhan Anak melalui Nutrisi Terbaik”

Rubrik Klinik MLC : Tumbuh Kembang & Psikologis Anak (Bagian 1)

Profil Layanan Klinik Tumbuh Kembang Anak Padang “My Lovely Child” (MLC)

Ibu N, di Padang

Assalamualaikum, 

Anak saya perempuan berusia 4 tahun, sulit berkonsentrasi dalam melakukan kegiatannya. Dia hanya bisa bertahan 5-7 menit jika diminta mengerjakan suatu hal. Apakah perkembangan daya konsentrasi anak dapat berubah-ubah seiring pertambahan usianya?

 Wa’alaikumussalam Ibu N, terima kasih atas pertanyaannya.

Menurut Psikolog Klinik MLC, Risanita Fardian Farid, M.Psi,Psi, atensi dan konsentrasi merupakan hal yang penting bagi perkembangan dan keterampilan belajar anak. Atensi adalah rentang waktu yang digunakan anak untuk memusatkan perhatian, sedangkan konsentrasi merupakan kemampuan untuk mempertahankan atensi yang ia miliki dalam menyelesaikan suatu tugas.

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi rentang atensi dan daya konsentrasi seseorang. Salah satunya adalah usia, semakin tinggi usia anak maka rentang atensinya semakin panjang. Cara menghitung rentang atensi anak usia prasekolah (3 – 5 tahun) adalah mengalikan usia anak dengan satu menit. Jika ananda berusia empat tahun maka, jangka waktu untuk fokus adalah empat menit. Berdasarkan penjelasannya tersebut, berarti atensi putri ibu tergolong cukup baik ya. Kemudian, apakah anak berusia 17 tahun maka rentang atensinya adalah 17 menit? Tidak. Bagi anak usia sekolah (> 6 tahun) rentang atensi mereka adalah dua kali usianya. Jika usia ananda nanti menginjak 7 tahun maka rentang atensinya adalah 14 menit, begitu seterusnya.

Selain usia, menurut Yustisi Maharani Syahadat, M.Psi.,Psi, daya konsentrasi anak juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti stimulus/rangsangan yang diterima anak, stimulus penyerta/pengganggu, kondisi lingkungan, gaya belajar serta minat anak terhadap sesuatu kegiatan atau aktivitas yang kita berikan. Faktor-faktor ini bisa saling mempengaruhi secara positif (membuat anak menjadi lebih fokus/konsentrasi) atau negativ (membuat konsentrasi anak terganggu). Misalnya saja, apabila anak diberikan kegiatan yang sesuai dengan minatnya, maka anak akan memiliki daya konsentrasi lebih lama terhadap kegiatan tersebut.

Lalu, mengapa sepertinya seorang anak berusia 4 tahun sulit berkonsentrasi dalam beraktivitas? Psikolog Risa memaparkan bahwa salah satu karakteristik anak usia prasekolah adalah eksploratif, senang menjajal hal-hal baru. Mereka suka sekali kesibukan sehingga mudah berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Hal ini menyebabkan mereka terlihat “kurang fokus”. Jangan harapkan agar anak usia empat tahun mampu duduk dengan tenang ketika diminta untuk mewarnai satu lembar kertas berukuran A4.

Untuk melatih daya konsentrasi anak, Psikolog Risa menyarankan orang tua untuk memilihkan aktivitas yang ringan dan menyenangkan bagi anak serta dapat diselesaikan dalam rentang waktu atensi anak. Secara perlahan, tambahkan tingkat kesulitan tugas tersebut. Misalnya, aktivitas menggunting dan menempel satu gambar. Ketika anak sudah mahir (misalnya ia mampu menyelesaikannya dalam waktu dua menit), ibu dapat menambahkan jumlah tugas menjadi dua pola, tiga pola, dst. Psikolog Rani, juga menyarankan agar orang tua mampu mengenali minat dan bakat anak mengingat kedua hal ini juga berperan sebagai faktor penentu daya konsentrasi seorang anak.

Sebagai tambahan, dr, Asrawati, Sp.A.,M.Biomed, menjelaskan bahwa ternyata pemaparan anak secara dini terhadap aneka gadget seperti smartphone, laptop, TV dan beragam teknologi berlayar lainnya, mampu menurunkan daya konsentrasi anak. Oleh karena itu, untuk anak berusia di bawah 2 tahun tidak disarankan untuk dipaparkan dengan gadget, sedangkan bagi anak di atas usia 2 tahun sebaiknya diberikan “screen time” atau batasan waktu paparan terhadap gadget yakni maksimal 2 jam per hari.

Untuk penilaian lebih lanjut serta pengenalan minat dan bakat anak, ibu bisa berkonsultasi dengan Tim Psikolog dan Dokter Klinik MLC.

 

Ibu H, di Padang

Assalamu’alaikum dokter,

Anak saya mengalami down syndrome dan saat ini sudah berusia 2 tahun.  Namun, hingga saat ini makannya masih menggunakan tekstur yang cair, karena jika diberikan tekstur lebih padat dia malah muntah. Kapan anak saya bisa naik tekstur, dok?

Wassalamu’alaikum Ibu H.

Menurut dr, Nice Rachmawati, Sp.A (K), dokter spesialis sekaligus konsultan gizi anak, kesulitan anak terhadap tekstur padat dimungkinkan oleh kemampuan mengunyah yang belum baik terutama apabila disertai adanya hipotoni akibat down syndrome yang dialami. Dokter Rehabilitasi Medik Klinik MLC, dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR menambahkan bahwa anak kemungkinan juga mengalami masalah sensorik dan motorik di area oromotor seperti hipersensitif yang menyebabkan anak tidak nyaman terhadap tekstur yang kasar,  hipotonus otot area oromotor yang mengakibatkan anak kesulitan mengunyah, membentuk makanan yang sudah dikunyah membentuk bolus makanan serta kontrol lidah untuk mengunyah dan menelan yang masih belum baik.

Untuk mengetahui kapan dapat dilakukan peningkatan tekstur makanan, sebaiknya anak dilakukan penilaian/assessment lebih lanjut oleh Tim Dokter kami.

 

Ibu R, di Padang

Selamat pagi,

Bagaimana cara menarik respon anak saat diajak berkomunikasi, karena saat saya mengajak anak laki-laki saya yang saat ini berusia 2 tahun 1 bulan untuk berkomunikasi, dia cenderung cuek.

 Selamat pagi, Ibu R

Menurut Psikolog Klinik MLC, Yustisi Maharani Syahadat, M.Psi.,Psi, Komunikasi merupakan salah satu interaksi positif antara orang tua dengan anak yang dapat dilakukan melalui media bermain. Artinya, kita sebagai orang tua juga ikut bermain bersama dengan anak. Komunikasi dapat diawali dengan mengajak anak membicarakan sebuah tema permainan, sehingga anak akan tertarik lebih jauh untuk membahas seputar permainan tersebut. Selanjutnya, orang tua sebaiknya memberikan respon terhadap setiap kata yang diucapkan anak agar anak tertarik untuk ‘ngobrol’ dan berbicara lebih banyak. Apabila orang tua memberikan respon dan menunjukkan ketertarikan dengan permainan atau aktivitas yang sedang dilakukan anak maka nantinya, anak akan memberikan respon secara spontan (tanpa harus diminta).

Selain itu, sebaiknya hindari komunikasi yang bersifat tanya jawab karena di usia ini, anak masih belum mampu merespon komunikasi tanya jawab. Point penting dalam hal ini bukanlah semata-mata berbicara dengan anak akan tetapi, lakukan interaksi dan keterlibatan dalam setiap kegiatan anak agar secara otomatis tercipta komunikasi yang intensif antara orang tua dengan anak.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tips bagi orang tua dalam melakukan interaksi dan komunikasi bersama anak serta menilai kemampuan interaksi dan komunikasi anak, ibu dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan tim Psikolog klinik MLC.

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *