Selamat kepada salah satu pemenang lomba gizi keluarga MLC dalam rangka menyambut “Hari Gizi Nasional” ke-61, 25 Januari 2021. Berbicara mengenai gizi, ditambah lagi gizi pada anak yang pastinya orang tua mengetahui apa itu MPASI. Dalam cerita kali ini akan mengulas mengenai mengalaman betapa pentingnya sosok ibu yang tangguh dan support system dalam pemberian MPASI.

“Peran penting Ibu yang tangguh dan Support System yang baik dalam pemberian MPASI”

Oleh : Brinanti Sandwika Jalius, S.T., M.M.

Sejenak merefleksi diri di dalam masa – masa ikhtiar untuk memberikan MPASI terbaik  kepada Ubaydullah, dimana terdapat berbagai hal yang menjadi bahan evaluasi dan juga menjadi motivasi untuk terus belajar. Karena sungguh perjalanan ini masih sangat panjang.

Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, salah satunya adalah dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi anak. Semua orang tua ingin pertumbuhan dan perkembangan anaknya sesuai dengan referensi/ milestones. Keinginan setiap ibu adalah bagaimana bisa memberikan asupan makanan yang baik, yang memenuhi kebutuhan gizi anak. Semua ibu ingin agar anaknya bisa makan dengan lahap alias no drama. Tapi sayangnya tidak selalu apa yang kita inginkan terjadi begitu saja, perlu usaha yang gigih sebelum bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

Jika bercerita tentang  kebiasaan makan Ubaydullah, agak malu sebenarnya karena merasa masih masih newbie, masih kurang pengalaman, ini pengalaman pertama di usia yang  sudah kepala tiga (masih muda, tapi ga muda muda amat, hehehe..), namun proses bercerita itu penting karena sekaligus merupakan proses evaluasi agar kedepan bisa lebih baik.

Cerita Sebelum makan

“Ubaydullah, makan yuk, pake bla2”… dengan penuh semangat memperlihatkan makanan pada ubay.. jangan lupa sebelum makan baca bismillah..

Saat selesai makan

Nah ini nih yang banyak skenarionya;

Versi 1

“Alhamdulillah.. makasih ubaydullah.. lahap makannya nak”.. sambil memperlihatkan mangkok makanan yang bersih kinclong alias yang makanannya habis ataupun yang makananya bersisa (namun dirasa sudah habis sesuai porsi).. terus lanjut berseru “hebat anak ibuk”… then let him play for a while..

Versi 2

Ditengah – tengah  makan tiba –tiba mogok, Ubaydullah bikin drama drama, hehe..   Macam – macam dramanya, mulai dari  malas buka mulut, lepeh – lepeh makanan, dll. Menyuapi makanan harus sambil curi – curi kesempatan. Kalo sudah begini, ibuk sibuk rekayasa tekstur, rekayasa suasana makan, atau sibuk istighfar.. nahan biar nada suara ga berubah, atau terkadang bisa juga keluar gumam – gumam tidak jelas misal dari mulut ibuk, diwaktu sendok makan ditepis ubaydullah atau di waktu mangkok ga sengaja ketendang.

Versi 2  ini endingnya bisa 2, bisa happy ending (balik ke versi 1) “horaaay”, atau sad ending, merasa down, “haduuh apa lagi yang salah iniiiii..”

Versi 3

Ubaydullah badmood, menolak makan dari awal, masuk pun paling 5 sd 10 suap saja. Nah ini yang paling bahaya. Kalau diteruskan bisa berurai air mata si ubaydullah (jatohnya jadi menjurus pada memaksa anak makan) sedangkan segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik kan ya.. duh sedih banget iniiiih…

Trus – trus bagaimana?

Kalau sudah terjadi versi 2 yang sad ending apalagi versi 3 maka terlihatlah, yang paling dibutuhkan anak adalah ibu yang tangguh, yang tidak gampang menyerah, dan yang paling dibutuhkan ibu tersebut adalah kepercayaan diri serta support system yang baik.

Lalu bagaimana cara ibu membangun kepercayaan diri? Bagaimana cara meyakinkan diri kalau kita mampu.?

  1. Perbanyak membaca,  jangan capek
  2. Bikin Diary Food atau at least notes makanan atau cara makan seperti apa yang biasanya bikin sesi makan sukses (tapi tetap ingat, sukses hari ini belum tentu sukses besok, melihat pola makan bukan dalam 1 atau 2 hari.. bukan 1 atau 2 bulan, kalau kata dr. Zuhrah Taufiqa perlu beribu ribu kali sesi makan.
  3. Ini yang terpenting, berserah diri padaNya, jangan lupa bersyukur, Ingat bahwa anak itu amanah.
  4. Jika kamu merasa sedang dititik terlemah, jangan diabaikan rasa itu, nanti malah meledak, bisa stress.. Ingat we are also a human.. take a break.. (tapi breaknya bukan dalam artian jadi mengabaikan anak ya…) Cari cheat code mu sendiri… biar lekas pulih moodnya.
  5. Semangat, yakin kita bisa.
  6. Sabar

Lalu support system yang baik itu gimana ya?

  1. Keluarga

Para suami hendaknya harus tau dan care tentang bagaimana kondisi anak plus ibuknya. “Tapi suami saya sibuk, orangnya pun cuek..” Hmm.. kirimin aja foto atau video anaknya makan, bagaimana kondisinya, jauh lebih ampuh dibanding cerita panjaaang lebar.

Bersama – sama mencari solusi jikalau ada kendala.

Jika ada anggota keluarga lain yang sudah berpengalaman terkait MPASI, jangan segan – segan minta sharing pengalaman..

  1. Teman seperjuangan.

Cari teman – teman senasib seperjuangan, untuk sama – sama belajar, ikut grup atau komunitas MPASI. Tapi kalau mau masuk komunitas di dunia maya, yang notabene kamu tidak \ kenal dia siapa dan dia tidak kenal kamu siapa, jangan baper ya. Kalau ga “kuat – kuat iman”,  jangan buru – buru bertanya, baca dulu postingan – postingan sebelumnya, jadi silent rider sambil belajar. Trus kalau mau komen harus yakin dulu komennya berfaedah.. jangan asal komen apalagi ikut-ikutan bully

  1. Cari Ahlinya.

Cari DSA yg cocok, cari Ahli Gizi yang cocok, atau siapapun dengan background pendidikan maupun pengalaman yg sudah teruji.

Satu lagi Lessons Learned-nya, jangan terlalu diambil hati jika ada komen2 toxic, bikin capek hati, dan kita pun jangan dengan gampang menjudge keadaan orang lain. Apalagi kalau kamu bukan ahlinya, ingat setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Yakinlah, setiap orang tua akan mengusahakan yang terbaik yang dia mampu untuk anaknya.

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: